Categories
TADABUR AYAT

#3 TETAP BERJALAN, WALAU TAK SAMPAI TUJUAN

"TETAP BERJALAN, WALAU TAK SAMPAI TUJUAN"

Setelah hijrahnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam beserta sahabatnya dari Mekah ke Yathrib (Madinah), tidak ada yang tersisa di Mekah kecuali sejumlah kecil kaum Muslimin yang tidak hijrah karena penyakit dan usia tua mereka.
Dan di antara para sahabat yang tertahan oleh penyakit dan usia tua tersebut adalah seorang sahabat yang mulia, dia adalah Dhamrah bin Jundub Radhiallahu ‘anhu..

Dia tidak tidak dapat menanggung kesulitan perjalanan dan panasnya gurun sahara, jadi dia terpaksa tinggal di Mekah. Akan tetapi, dia pun tidak tahan tinggal di antara orang-orang musyrik, maka dia memutuskan untuk memaksakan dirinya sendiri serta mengabaikan penyakit dan usianya.

Dhamrah bin Jundub Radhiallaohu ‘anhu betul-betul membuktikan kesungguhan tekadnya, dia keluar pergi menuju Madinah. Ketika di tengah perjalanan penyakitnya kambuh dan bertambah lebih parah, dan dia menyadari bahwa dia akan mendapati kematian serta tidak akan bisa tiba di Madinah. Maka dia radhiallohu ‘anhu menghentikan perjalanan, kemudian dia memukulkan telapak tangannya ke telapak tangannya yang lain seraya berkata; “Ya Allah, ini adalah baiatku kepada-Mu.” Lalu memukulkan telapak tangannya lagi untuk yang kedua kali, dan berkata; “Dan ini baiatku untuk Nabi-MU”. Lantas Ia pun terjatuh wafat di tengah perjalanannya…

Maka Jibril ‘Alaihissalam turun kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, memberitahunya apa yang telah terjadi terhadap Dhamrah, kemudian turunlah firman Allah Ta’ala:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nisaa [4]: 100).

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam lalu mengumpulkan para sahabatnya dan menceritakan kepada mereka tentang Dhamrah, serta mengucapkan haditsnya yang terkenal, yang merupakan hadits pertama dalam Sahih Al-Bukhari dan Al-Arbain Al-Nawawi, yaitu; “Innamal A’maalu bin Niaat”.

Sungguh Dhamrah bin Jundub mendapatkan kemuliaan dan kehormatan yang tidak didapat oleh orang lain dengan diturunkan Al-Qur’an dan Sunnah dalam kisah hidupnya, meskipun dia tidak sampai di Madinah.

Saudaraku..Jalan menuju Allah itu panjang.. dan kita tidak harus sampai di ujungnya, yang penting adalah kita mati saat berada di dalamnya. Beramal dengan Allah tidak mengharuskan kita mencapai tujuan, tetapi cukup bagi kita untuk mati saat beramal dan berjalan di jalan menuju pada-Nya selama niatmu adalah Lillaah…

Tetaplah berjalan walau tujuan belum tercapai.. tetap bertahan di jalan-Nya.. sungguh hati ini lemah, sedang fitnah akan terus mengikat.. Duhai Dzat yang membolak-balikkan hati kami, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu…
#Latahzan Chanel

Categories
TADABUR AYAT

02 # Boleh Jadi Awal Baik Kehidupanmu

Jangan sedih.. dan jangan panik, ku mohon padamu.. kau akan melihat setiap ujian adalah kabar gembira dari-Nya sedang menantimu.. Maryam ‘alaihassalam pernah mengharapkan kematian saat diberikan kabar gembira dengan kelahiran Isa ‘alaihissalam

قَالَتۡ يَٰلَيۡتَنِي مِتُّ قَبۡلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسۡيٗا مَّنسِيّٗا

“Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. (QS. Maryam: [19]: 23).

Padahal yang membuat ia membayangkan kematian saat itu sebelum ia melihatnya, dia adalah seorang Nabi yang langsung membawa namanya.. Isa bin Maryam..

Boleh jadi keaadaan yang terkadang membuatmu mengharap kematian saat itu, ia adalah awal permulaan kehidupanmu yang sebenarnya..

Categories
TADABUR AYAT

“01# Hal Itu Mudah Bagi-KU”

 

01# Hal Itu Mudah Bagi-KU

Kita jika menginginkan satu urusan tentunya akan mencari penyebabnya, lumrah sekali.. namun apabila Allah Ta’ala menghendaki satu urusan, sebab bukan menjadi pertimbangan sedikitpun bagi-Nya.. Begitu pula Maryam ‘alaihassalam saat diberikan kabar gembira dengan seorang anak, dia melihat penyebab hal tersebut tak mungkin terjadi.. untuk itu ia berkata;
قَالَتْ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ وَّلَمْ اَكُ بَغِيًّا
“Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. Maryam [19]: 20).
Tafsir Ibnu Katsir:
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Maryam berkata,
“Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki.

Maryam merasa heran dengan berita tersebut, maka ia mengatakan,
“Bagaimana aku bisa punya anak laki-laki,”
dengan cara apakah akan terjadi kelahiran anak laki-laki seperti itu dariku, padahal aku bukanlah wanita yang bersuami, dan mustahil aku berbuat lacur.
Karena itulah dalam ayat selanjutnya disebutkan bahwa Maryam berkata:
…sedangkan tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina.
Al-bagyu artinya zina.

Di dalam Hadits disebutkan bahwa Nabi ﷺ melarang (memakan) maskawin pelacuran, yakni imbalan yang diberikan kepada pelacur.

Maryam melihat pada sebab-sebab kelahiran.. Namun Allah Ta’ala menjawab;

“Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami..”

 Tak ada sesuatu pun yang mampu melemahkan Allah.. dan Allah Maha berkuasa Atas segala sesuatu..